foto: https://bukumojok.com/product/yang-tersisa-dari-yang-tersisa/
Judul: yang Tersisa dari yang Tersisa
Penulis: Nurhady Sirimorok
Jenis Buku: Fiksi
Penerbit: Buku Mojok
Cetakan I: November 2020
Tebal: viii + 183 halaman
ISBN 978-623-7284-46-8
Blurb:
Sebagai bocah, jika aku hidup hanya dikelilingi orang dewasa, bersama berjuta-juta larangan mereka, barangkali sudah lama kulemparkan diriku ke dasar jurang. Orang-orang dewasa di Tompotikka hanya punya dua cara mendidik kami anak-anak: menghalangi semua rencana kami dan menghukum kami apabila berhasil melompati halangan mereka.
Aku mau cepat dewasa. Aku mau cepat bisa melakukan segala yang mereka bisa lakukan. Walaupun, sebetulnya, ada yang lebih hebat: menghabiskan malam bersama tiga sahabatku, berkeliaran di hutan saat semua orang dewasa terlelap. Mereka perlu tahu setiap bocah, setelah menelan jutaan larangan orang tua, butuh bersenang-senang di luar rumah bersama kawan-kawannya. Kalau kemudian mereka memukuli kami sampai remuk, memang itulah pekerjaan mereka, orang dewasa memang membenci bocah-bocah yang dewasa.
Nurhady Sirimorok adalah penulis lulusan Institute of Social Studies, Den Haag, Belanda. Selain menulis, ia bekerja sebagai penerjamah dan peneliti di bidang pedesaan. Ia tinggal di Makassar dan aktif di Komunitas Ininnawa. Tak heran buku yang akan saya bahas ini bertemakan pedesaan yang kuat hawanya.
Novel yang berjudul "yang Tersisa dari yang Tersisa" menceritakan tentang seorang tokoh utama yaitu 'aku' bernama Amir. Dia bersama teman-temannya, Ogi, Supri, dan Makmur, membentuk suatu kelompok yang diberi nama "Jarum Super" yang artinya Jarang di Rumah Suka Pergi. Mereka bukan yang pertama dalam sejarah desa yang membentuk kelompok itu. Orang-orang dewasa yang dulu pernah menjadi bocah pernah membuat kelompok pemuda seperti itu yang diberi nama unik dan kocak. Selain itu, perkumpulan pemuda juga memiliki markas yang disebut 'Kampus'. Entah kenapa dinamakan seperti itu, seperti perkuliahan padahal di desa mereka, jangankan kuliah, Sekolah Menengah Pertama pun tidak ada. Kampus mereka berada di kolong rumah Ogi.
Mereka berempat lahir dan hidup bersama di desa yang bernama Tompotikka. Mereka adalah para bocah-bocah yang diremehkan oleh para orang dewasa dan tokoh utama sangat menentang hal itu. Mereka bersama-sama ingin membuktikan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang luar biasa dan dapat membuat para orang dewasa harus berbalas budi kepada mereka. Misi yang mereka terima dari Kepala Desa memulai pembuktian mereka pada keberhasilannya.
Mereka sangat akrab satu sama lain. Banyak hal yang telah mereka lalui. Namun, walaupun mereka lahir dan tumbuh bersama di desa, waktu demi waktu mereka mulai berpisah. Perlahan satu persatu dari mereka meninggalkan desa untuk merantau. Selain kepergian temannya satu persatu, ada juga masalah di desa yang membuat si tokoh 'aku' ini ingin membalas dendam kepada Kepala Desa. Selama itu Amir berjuang sendiri tanpa teman-temannya menyusun cara agar Pak Kepala Desa kalah.
Dari membaca sinopsinya saja, sudah membuat saya tertarik untuk membeli dan membaca buku ini. Bagaimana tidak? buku ini telah membarakan semangat saya sebagai seorang bocah yang juga tidak suka dilarang-larang oleh orang dewasa ataupun orang tua. Saya lebih suka hidup dengan cara dan tujuan saya sendiri.
Novel ini juga menceritakan sebuah persahabatan dan apa arti sahabat itu sendiri. Menjelaskan betapa tidak lebih baiknya orang dewasa berperilaku. Dalam buku ini juga berhasil membuat kita juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh si tokoh utama, tentang kesedihan, kehilangan, dan cinta. Selain itu ada sedikit taburan komedi di dalam cerita ini. Moral dan nilai-nilai sosial juga tersirat dalam buku ini.
Desain dan warna covernya pun tidak ada masalah, semuanya sangat bagus dan menarik. Hanya saja di akhir cerita, Anda akan dibuat penasaran karena sepertinya ceritanya menggantung. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada si tokoh utama dan hal besar apa yang terjadi dan direncanakan secara rahasia tanpa ada yang tahu. Sepertinya Nurhady Sirimorok harus melanjutkan novelnya, merilis buku "yang Tersisa dari yang Tersisa 2". Saya akan menunggu itikad baik dari Nurhady secepatnya (tentu jangan dianggap serius).
Tentu saya tidak akan menceritakan isi cerita novel ini secara keseluruhan karena itu akan membuat para pembaca kehilangan rasa yang seharusnya ada. Oleh sebab itu, untuk keseluruhan lebih lengkapnya lagi silahkan dibaca sendiri bukunya karena buku ini sangat cocok dibaca bagi kalian yang ingin mencari penghiburan di tengah-tengah kesibukan dan ingin merasakan nostalgia bersama teman-teman, masa muda, dan kampung halaman. Akhir kata, buku ini saya beri rating 4 dari 5 bintang.

Komentar
Posting Komentar