Langsung ke konten utama

Review buku novel Mata Paling Biru karya Toni Morrison


Judul: Mata Paling Biru
Penulis: Toni Morrison
Penerjemah: Aly D Musyrifa
Penerbit: Basabasi
Cetakan I: November 2019
Tebal: 284 hlmn
ISBN: 978-623-7290-40-7

Mata Paling Biru adalah novel Toni Morrison, sebuah buku yang dipuji karena kekayaan bahasa dan kejelasan visinya. Dengan latar belakang kota Lorain, Ohio, yang merupakan kota kelahiran dan masa kanak-kanak sang pengarang, novel ini bercerita tentang seorang gadis cilik sebelas tahun, kulit hitam, bernama Pecola Breedlove. Pecola berdoa agar matanya berubah menjadi biru supaya cantik dan disayang sebagaimana anak-anak kulit putih Amerika yang berambut blonde dan bermata biru. Pada musim gugur 1941, tahun ketika bunga marigold tak tumbuh di kebun keluarga Breedlove, kehidupan Pecola memang benar-benar berubah--dengan cara-cara yang menyakitkan dan menghancurkan. 

Di bagian pertama buku ini, diawali oleh kedua kakak beradik yang sedang cemas akan biji bunga marigold yang telah ditanam oleh mereka namun tidak tumbuh juga. Mereka menanamnya dengan asumsi jika bunga itu tumbuh, maka bayi dan kehidupan Pecola akan tumbuh dan berangsur baik. Mereka menyalahkan satu sama lain, mencari siapa yang harus disalahkan. Namun nyatanya tidak ada bunga marigold yang tumbuh, bahkan tidak untuk semua tanah yang ada di sekitar lingkungannya, bunga marigold di kebun depan danau pun tidak tumbuh. Mereka mengira karena Pecola telah mengandung bayi dari ayahnya sendiri, Cholly Breedlove.

Di buku ini dibagi di tiap babnya dengan musim-musim yang berbeda. Menceritakan bagaimana cerita hidup Pecola dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sudut pandang yang dipakai dalam buku ini ada dua. 

Sudut pandang orang pertama (Aku) yang diperankan oleh seorang anak perempuan bernama Claudia, dia mempunyai seorang kakak bernama Frieda, keluarga kulit hitam yang menerima Pecola sebagai keluarga sementaranya semenjak ayahnya Pecola hampir membakar rumah mereka sendiri. 

Lalu sudut pandang orang ketiga yang dimaksudkan untuk menceritakan orang-orang yang terlibat dalam hidup Pecola selain tokoh aku itu tadi.

Singkatnya, tidak hanya hidup Pecola yang diceritakan di dalam buku ini, tapi masa lalu dan perjalanan hidup orang-orang disekitarnya juga diceritakan yang membuat kita menjadi tahu mengapa orang itu bisa melakukan sesuatu di masa depannya.

Pecola hanyalah seorang gadis kecil berkulit hitam yang ingin mempunyai mata biru. Suatu saat keinginannya tercapai namun bersamaan dengan hidupnya yang menjadi kelam dan bertambah buruk. Hidup Pecola hancur, namun di suatu sisi bisa jadi dia mungkin memang tidak menyadarinya. Dia hanya tergila-gila dengan ilusinya. Membuatnya tampak bodoh.

Menurut saya tentang buku ini, topik yang diangkat ke dalamnya sangat menarik. Bagaimana kerasisan terjadi kepada orang-orang berkulit hitam, atau bahkan orang-orang kulit hitamnya sendiri yang merasa ras mereka adalah yang jelek, buruk, dan menjijikan. Mereka selalu mengiyakan orang-orang yang berkulit putih. 

Selain mengangkat soal kerasisan, juga mengankat topik pemerkosaan dan kejahatan-kejahatan yang ditumpahkan ke dalam kehidupan Pecola. Bagaimana semua itu hal-hal yang menyakitkan dan menghancurkan. Bagaimana hal itu begitu terjadi pada usia anak sebelas tahun.

Menurut saya juga, covernya lumayan menarik. Menggambarkan matahari yang bersinar terang di tengah dan dirayapi oleh tangan-tangan bewarna biru. Namun sangat disayangkan, covernya tidak ada efek timbul sebagaimana ciri khas novel pada umumnya. Menurut saya akan lebih bagus lagi jika diberikan efek timbul di setiap garis-garis lekukan. 

Buku versi terjemahan ini bagaikan hanya diterjemahkan saja tanpa perlu diedit ulang. Masih banyak kesalahan-kesalahan pemilihan kata dan kalimat serta kesalahan ketik dan kesalahan tanda baca yang banyak sekali di hampir setiap halaman. 

Saya sempat kecewa awalnya telah membeli buku ini. Dengan berbagai macam kesalahan dalam buku ini membuat saya jengkel dan malas membacanya. Walaupun begitu, buku ini tetap selesai saya baca karena lumayan membuat saya penasaran dan ingin membacanya sampai selesai. Mungkin kalau topik yang diangkat dalam buku ini tidak seru atau tidak menarik, saya tidak akan lanjut membacanya lagi dan menyesal membeli buku ini.

Selain itu, karena ini buku terjemahan, penerjemah tidak memberikan penjelasan pada sebutan, acara, atau artis-artis asing yang disebutkan di dalam buku. Membuat kita harus mencari sendiri di internet apa yang dimaksud oleh penulis di dalam buku ini. Padahal sering kali kita melihat dalam buku terjemahan ada penjelasan dari sebuah kata atau kalimat yang asing didengar terletak di bawah halaman.

Mungkin buku ini akan lebih bagus jika dibaca versi aslinya ketimbang buku terjemahannya. Tapi bagi kalian yang tidak bisa berbahasa inggris atau asing, boleh saja baca buku ini hanya saja harus sabar dan benar-benar mengerti apa maksud dari kalimat-kalimat puitis panjang yang sedikit membingungkan dalam versi terjemahan.

Saran untuk penerbit mungkin bisa diperbaiki lagi untuk cetakan selanjutnya dan berikanlah suatu ciri khas dan efek timbul pada covernya.

Namun dibalik kekurangan tersebut, buku ini tetaplah baik untuk menyadarkan kita untuk tidak rasis dan mencintai diri sendiri apa adanya.

#blacklivesmatter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku novel Noto (Tragedi, Cinta, dan Kembalinya Sang Pangeran)

foto:  https://www.goodreads.com/book/show/22664719-noto-tragedi-cinta-dan-kembalinya-sang-pangeran Judul: Noto (Tragedi, Cinta & Kembalinya Sang Pangeran) Penulis: Prijono Hardjowirogo Jenis Buku: Fiksi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: Pertama juli 2014 Tebal: 342 ISBN 978-602-03-06513 Prijono Hardjowirogo adalah seorang penulis yang lahir di solo, jawa tengah, pada 25 mei 1948. Dia adalah tamatan dari Long Island University dan University Of California, Los Angeles, dalam bidang filsafat ilmu pasti. Saya menebak bahwa buku ini juga terinspirasi dari latar belakang kehidupan penulisnya sendiri. Seperti yang ada dalam buku ini, yang sangat kental dengan tradisi dan budaya kerajaan solo dan mataram. Tempat di mana Prijono Hardjowirogo dilahirkan. Selain itu, banyak tokoh dalam cerita yang berpendidikan tinggi dan biasanya bersekolah di sekolah luar negeri yang membuat saya berpikir bahwa buku ini bisa jadi terinspirasi dari jalan hidup sang penulis sendiri. Di awal ceri...

Review Buku yang Tersisa dari yang Tersisa karangan Nurhady Sirimorok

foto:  https://bukumojok.com/product/yang-tersisa-dari-yang-tersisa/  Judul: yang Tersisa dari yang Tersisa Penulis: Nurhady Sirimorok Jenis Buku: Fiksi Penerbit: Buku Mojok Cetakan I: November 2020 Tebal: viii + 183 halaman ISBN 978-623-7284-46-8 Blurb: Sebagai bocah, jika aku hidup hanya dikelilingi orang dewasa, bersama berjuta-juta larangan mereka, barangkali sudah lama kulemparkan diriku ke dasar jurang. Orang-orang dewasa di Tompotikka hanya punya dua cara mendidik kami anak-anak: menghalangi semua rencana kami dan menghukum kami apabila berhasil melompati halangan mereka. Aku mau cepat dewasa. Aku mau cepat bisa melakukan segala yang mereka bisa lakukan. Walaupun, sebetulnya, ada yang lebih hebat: menghabiskan malam bersama tiga sahabatku, berkeliaran di hutan saat semua orang dewasa terlelap. Mereka perlu tahu setiap bocah, setelah menelan jutaan larangan orang tua, butuh bersenang-senang di luar rumah bersama kawan-kawannya. Kalau kemudian mereka memukuli kami sampai ...