Judul: Forgulos
Penulis: Aveus Har
Jenis Buku: Fiksi
Penerbit: Basabasi
Cetakan I: Maret, 2020
Tebal: xii + 152 hlmn
ISBN 978-623-7290-74-2
Blurb:
Vulos adalah lembah subur di tepi pantai dengan bukit menghijau di lanskap seberang dan di kejauhan laut adalah gundukan tanah mengambang yang menjadi tempat naga-naga api bersemayam dan sesekali mereka menyemburkan api-apinya. Vuloses, sebutan bagi penghuni Vulos, hidup dalam kecukupan dan kemonotonan yang membosankan selama bertahun-tahun sehingga kebosanan itu melesap dalam keseharian. Ada bekas-bekas peradaban yang tak mampu mereka bayangkan di Vulos, namun tidak ada cerita masa lalu yang diturun-temurunkan selain anjuran: "Jauhi Forgulos, usir Forgulos."
Setelah seorang asing ditemukan nelayan di pantai Vulos, perlahan Vulos bermetamorfosa dengan forgulos-forgulos yang tidak mereka sadari telah berada di sana dan mengancam mereka. Tidak ada yang menyadarinya selain Bero dan Obre.
Bero dan Obre adalah anomali yang hidup dalam masa yang berbeda. Mereka sama terkucil, terasing, namun teguh dalam keyakinannya: Forgulos telah berada di sana dan petaka akan menjelang!
Aveus Har adalah seorang penulis asal indonesia yang bernama asli Suharso. Dia memenangkan juara #1 pada Sayembara Novel Basabasi 2019 dengan karya novelnya yang berjudul Forgulos. Novel ini menceritakan tentang lembah subur di tepi pantai yang bernama Vulos dan para orang-orang yang hidup di Vulos disebut Vuloses. Vuloses hidup dalam kecukupan, ketenteraman, dan kemonotonan yang membosankan. Ada anjuran turun-temurun yang berasal dari para leluhur disana: "Jauhi Forgulos, usir Forgulos."
Namun, hingga ditemukannya seorang asing di pantai oleh dua orang nelayan, perlahahan penduduk Vulos telah hidup bersama-sama dengan Forgulos. Dan forgulos-forgulos tersebut mengancam keselamatan para penduduk Vulos. Namun masyarakat tidak ada yang menyadarinya. Hanya Bero dan Obre yang menyadari hal tersebut dan Vulos dalam bahaya.
Di bagian pertama buku ini, ada dua orang nelayan yang menemukan seseorang yang terdampar di tepi pantai. Namun, karena orang itu asing dan 'sesuatu yang asing' itu adalah Forgulos, lalu berdasarkan anjuran dari nenek moyang yang telah turun temurun untuk menjauhi forgulos, dua nelayan itu berniat untuk menjauhkan sampan orang asing itu. Namun, bukannya sampan tersebut menjauh, justru malah mendekat kembali. Ternyata, ada lumba-lumba yang mengarahkan sampan tersebut. Membuat kedua nelayan tersebut berpikir bahwa lumba-lumba itu ingin mereka membantu orang tersebut.
Nelayan tersebut pun menuruti 'keinginan' lumba-lumba tersebut. Akhirnya, mereka membawanya ke Rumah Empat Belas tempat empat belas komitus sebagai Konstitue Vulos bekerja mengajukan dan membahas semua peraturan dan tata kehidupan Vulos. ketiga belas komitus setuju untuk menerima orang asing tersebut dikarenakan orang tersebut tidak benar-benar seorang forgulos. Tetapi terdapat vuloses di diri orang tersebut sehingga dia disebut Forlugos--lawan kata Forgulos yang bisa diartikan sesuatu atau seseorang yang asing tapi terdapat vuloses di dalamnya.
Dari keempat belas komitus, satu orang tidak setuju dengan para komitus lain yang akan menerima orang asing itu. Dia bernama, Bero. Dia berpendapat bahwa orang asing itu Forgulos. Dan kita harus menghindari yang namanya Forgulos. Namun bukannya pendapatnya didengarkan justru ditertawakan oleh para komitus lain.
Mulai dari sinilah, Vulos berubah. Para penduduk yang sebelumnya tidak mempunyai agama dan mengenal tuhan jadi beragama dan mempercayai adanya tuhan. Ada dua agama yang berbeda. Satu berasal dari Vuloses itu sendiri bernama freos dan yang satunya berasal dari Arthur (si orang asing yang terdampar itu) bernama quos. Meskipun semua penduduk memeluk agama yang berbeda-beda, mereka tetap menganggap mereka semua menyembah satu tuhan yang sama. Walaupun tuhan mereka berbeda nama, tuhan mereka tetaplah satu. Mereka masih hidup dalam kedamaian dan ketenteraman.
Sampai beberapa tahun ke depan, Vulos mulai memunculkan ancaman dan petaka yang sudah diramalkan oleh para leluhurnya. Namun mereka semua tidak menyadarinya. Banyak kebencian di antara masyarakat yang satu dengan yang lain.
Pembaca akan diarahkan ke waktu dimana Vulos sudah menjadi wilayah yang berkembang namun tidak damai. Para pembaca akan melihat dari kedua sisi agama yang berbeda dan diberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai tuhan dan agama oleh seorang tokoh yang ateos, yaitu orang yang tidak memegang agama.
Yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah covernya. Menurut saya gambar dari cover ini unik dan membuat penasaran karena bertumpuk-tumpuk kepala manusia. Warna covernya pun menarik karena bewarna hijau yang dipadukan warna kuning. Selain itu, alur cerita yang dibawa penulis sangatlah unik dan beda dari biasanya. Pembaca akan menemukan suatu ending yang memuaskan.
Novel ini berisi fiksi agama yang terdapat suatu konflik di dalam masyarakatnya. Sebenarnya, konflik tersebut sangat menggambarkan apa yang ada di antara masyarakat kita saat ini. Seperti yang kita pernah lihat, banyak orang-orang yang mengaku dirinya beriman dan dia menyuarakan kebencian dengan orang-orang yang berkeyakinan lain atas nama agama. Masyarakat sangat mudah percaya dan gampang di-adudomba-kan oleh orang lain hanya dengan nama agama saja tanpa tahu kebenarannya. Selalu berpikiran bahwa agama lain sedang menjatuhkan agama yang mereka miliki.
Ini cocok untuk dibaca oleh siapa saja. Namun, ada beberapa bahasa disini akan sedikit sukar dimengerti oleh kebanyakan remaja yang harus tahu dan paham soal perbedaan agama dan menghargai perbedaan tersebut. Selain itu juga, ada beberapa paragraf yang mengalami pengulangan kalimat seperti paragraf terakhir di halaman 112-113 dan 135-136 yang membuat saya ketika membacanya jadi bingung dan mengira saya telah salah membaca kalimat.
Di bagian cover buku, walaupun saya bilang gambar dan warna menarik, tapi ada perbedaan dengan buku novel pada umumnya. Tidak ada efek timbul yang dirasakan saat merabanya sebagai ciri khas cover novel, yang membedakan antara buku yang asli dengan yang bajakan.
Walaupun terdapat kekurangan, kekurangan tersebut bisa dikesampingkan karena buku ini tetaplah bagus dan cocok untuk dibaca oleh seluruh masyarakat indonesia agar bisa lebih memahami kalau kita ini tetap satu indonesia walaupun dengan agama yang berbeda-beda, suku yang berbeda, dan ras yang berbeda. Jangan sampai perbedaan tersebut justru menjadikan kita membenci satu sama lain dan terpecah belah.
Semoga dengan selesainya membaca buku ini, rasa persatuan kita semakin kuat dan tidak mudah dipecah belah.

Komentar
Posting Komentar