Langsung ke konten utama

Sebuah cerpen: El dan Putri Kerajaan


El dan Putri Kerajaan
(cindy melani putri)
Pada suatu hari, hiduplah seorang manusia albino yang selalu hidup menyendiri. Dia bernama El. Dia ditemukan di sebuah keranjang yang mengambang di satu-satunya danau besar di wilayah itu. Lalu dia dirawat oleh seorang kakek tua sampai umurnya berusia 6 tahun. Namun, sejak kakek tua itu meninggal di usianya yang baru menginjak enam tahun, tidak ada yang mau merawatnya dan berteman dengannya. Itu karena ia berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Dia terkucilkan oleh masyarakat lain karena masyarakat lain yang memiliki warna kulit berupa kuning langsat, rambut hitam pekat dan mata yang hitam juga. Bisa disebut mereka adalah ras yang paling menawan dibandingkan ras lainnya. Sedangkan El adalah manusia albino, seluruh tubuhnya bewarna putih dari ujung rambut hingga ujung kaki. Oleh sebab itu, dia tidak di anggap oleh masyarakat dan dijauhi oleh teman-temannya.

Suatu hari, El melihat seorang putri raja yang sangat cantik. Dia sangat rupawan, baik hati, suka menolong dan dia juga berbeda dengan masyarakat lainnya. Dia tidak seperti dengan masyarakat lainnya ataupun anggota keluarga kerajaannya sendiri. Dia adalah anak asuh raja. Dia berasal dari ras lain yang tidak sengaja ditemukan hanyut di danau juga seperti El. Rambutnya bewarna merah dan matanya bewarna biru. Namun karena memiliki rupa yang sangat cantik, dia dibawa ke kerajaan dan diasuh oleh raja dan ratu.

Dia sangat digemari oleh masyarakat, sangat keterbalikkan dengan El si albino yang juga berbeda dengan yang lainnya. di balik itu semua, El sangat menyukai sang putri. El sepertinya sudah jatuh cinta kepadanya. Lalu, setiap El tertangkap basah sedang memerhatikan sang putri, pasti sang putri memaparkan senyum manisnya ke arah El yang membuatnya tiba-tiba jadi salah tingkah dan lebih memilih untuk buang muka supaya dikira tidak melihat sang putri. Hal itu selalu terjadi berulang kali.

Sampai suatu ketika dimana El sedang mencuri sayuran dari para petani kebun. El terpergok oleh petani. Karena takut akan ditangkap oleh sang petani, El lari sekencang-kencangnya mengarah tanpa tujuan kemanapun ia bisa dengan kakinya. Dia memang berhasil lolos dari para petani, namun ketika sudah sampai di wilayah pasar yang berdekatan dengan danau, dia tidak sengaja bertabrakan dengan sang putri kerajaan. El terguling-guling di tanah menabrak sebuah tong berisi buah-buahan sedangkan sang putri kerajaan jatuh ke dalam danau.

Danau itu tidaklah dangkal tetapi sangat luas dan dalam. Sang putri tidak tau caranya berenang. Dia berusaha sebisa mungkin memposisikan badannya berada di permukaan air. Namun kakinya lemah karena jarang dilatih untuk melakukan hal ini. Lalu, El dengan sigap menjatuhkan dirinya ke kolam. Kakinya yang selalu terlatih untuk berlari agar tidak tertangkap saat mencuri mampu mendorong kuat tubuhnya untuk menyelamatkan sang putri. Dia berhasil menetapkan kepalanya di atas permukaan air dan berenang kearah sang putri kerajaan. Dia membawa sang putri ke pinggiran kolam. Namun sayangnya ketika putri kerajaan sampai di daratan, tubuhnya lemas. Dia tidak bisa bangun walaupun masih bisa bernapas. El tampak panik dan bingung harus melakukan apa. Sekumpulan masyarakat pun datang menghampiri mereka berdua.

Masyarakat mengira bahwa ini adalah akibat dari kesalahan yang telah El perbuat. Padahal El sudah berusaha menolong sang putri untuk kedaratan. Masyarakat menyerahkannya kepada pihak kerajaan. Mereka digiring ke istana.

Ketika melihat itu, raja sangat geram dan marah. Dia juga mengira bahwa putrinya sudah mati. Mereka semua tampaknya memang bodoh. Dia tidak mengira kalau putrinya masih hidup dan hanya pingsan sejenak saja. Atas kebodohan mereka semua, akhirnya El diberikan hukuman mati oleh raja pada hari itu juga tanpa proses sidang atau apapun itu. El sangat sedih dan putus asa. Dia juga mengira bahwa sang putri telah mati. Jadi dia pasrah dengan hukumannya. Dia berfikir bahwa ini adalah kesalahannya dan dia akan menyusul sang putri untuk meminta maaf dan berharap untuk hidup bersama dengan sang putri di alam sana.

Segala macam persiapan hukuman mati telah disiapkan sekurang-kurangnya selama satu hari. Kesokannya, El dikawan oleh beberapa penjaga istana yang menggiringnya ke tempat eksekusi mati yang terletak di danau sekaligus untuk memeringati hari ulang tahun sang putri raja yang ke-13 tahun. Tali tambang sudah di pasangkan di leher El. Dibawah kakinya terdapat sebuah ruangan yang dimana dalam hitungan ketiga si Penjaga Hukuman Mati, maka ruangan tersebut akan terbuka dan badannya jatuh ke bawah. Lalu, tali yang ada dilehernya akan menariknya kencang hingga beberapa detik lalu dia mati.

Namun sangat disayangkan saat El telah siap untuk dihukum mati, sang putri siuman. Dia mencari-cari dimana El. Karena seingat dia El lah yang membawanya ke daratan. Dia berlari keluar istana dengan baju dan rambut yang mulai mengering. Mengejar El sebelum dia berhasil dihukum mati. Namun semuanya terlambat. Ketika sang putri sampai di danau, hitungan si Penjaga Hukuman Mati sudah di hitungan ke tiga. El terlanjur dihukum mati. Sang putri sedih karena justru dia sedari dulu telah jatuh hati pada sosok si El. Ia meyukainya karena menurutnya El unik dan berbeda dari yang lainnya, sama sepertinya. Kini orang yang dia cintai telah mati. Raja juga sangat menyesal dan merasa bersalah. Seharusnya dia tidak mengambil keputusan secara cepat hanya karena emosi yang membara di tubuhnya. Sang putri menyesal tidak sempat menyelamatkan sang pujaan hatinya itu.

Sekarang setiap sore dia selalu datang ke danau itu dan menghanyutkan sebuah perahu kertas yang berisi tulisan-tulisan tangan sang putri untuk sang albino yang sangat dia cintai itu. Sangat sulit baginya menemukan orang selain dirinya. Menurutnya, El berbeda bukanlah suatu hal yang aneh dan patut dibenci. Tapi itu adalah suatu keunikan yang jarang atau bahkan hampir tidak dimiliki orang lain. Karena sang putri mengalami keunikan yang sama pula. Hanya saja sang putri beruntung karena raja dan ratu menginginkan seorang putri yang cantik. Jadi dia diterima oleh setiap orang yang ada. Sedangkan El tidak dianggap karena dia tidak bernilai apa-apa di mata mereka. Mereka hanya menganggap El adalah orang yang aneh dan tidak indah sama sekali.

Tidak ada yang tau dari mana mereka berdua berasal. Tapi yang pasti mereka salah ditempatkan karena tempat mereka berada adalah tempat dimana semua masyarakatnya bersifat rasis dan tidak menghargai perbedaan.

Kadang-kadang arwah El muncul ketika sang putri sedang melayarkan perahunya, sang putri bisa tersenyum dan berkata kalau itu bukanlah kesalahan El. Sekarang, dikarenakan putri sudah muak dengan desa dan masyarakatnya, dia memutuskan untuk pergi jauh dari desanya dan menelusuri pinggiran danau untuk mencari orang tua asli sang putri dan El. El berpesan untuk menyampaikan pesan kepada orang tuanya mengapa dia menghanyutkan dirinya yang masih kecil ke danau. Namun sangat disayangkan, di tengah perjalanan sang putri saat menyelusuri pinggiran danau, dia tewas di makan oleh seekor beruang lapar yang kebetulan sang putri lewat didepannya. Kini mereka telah bersama selamanya di surga. Bagi sang putri, mungkin ini adalah hadiah dari tuhan pada dirinya agar bisa bersama dengan hatinya selamanya.

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku novel Noto (Tragedi, Cinta, dan Kembalinya Sang Pangeran)

foto:  https://www.goodreads.com/book/show/22664719-noto-tragedi-cinta-dan-kembalinya-sang-pangeran Judul: Noto (Tragedi, Cinta & Kembalinya Sang Pangeran) Penulis: Prijono Hardjowirogo Jenis Buku: Fiksi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: Pertama juli 2014 Tebal: 342 ISBN 978-602-03-06513 Prijono Hardjowirogo adalah seorang penulis yang lahir di solo, jawa tengah, pada 25 mei 1948. Dia adalah tamatan dari Long Island University dan University Of California, Los Angeles, dalam bidang filsafat ilmu pasti. Saya menebak bahwa buku ini juga terinspirasi dari latar belakang kehidupan penulisnya sendiri. Seperti yang ada dalam buku ini, yang sangat kental dengan tradisi dan budaya kerajaan solo dan mataram. Tempat di mana Prijono Hardjowirogo dilahirkan. Selain itu, banyak tokoh dalam cerita yang berpendidikan tinggi dan biasanya bersekolah di sekolah luar negeri yang membuat saya berpikir bahwa buku ini bisa jadi terinspirasi dari jalan hidup sang penulis sendiri. Di awal ceri...

Review buku novel Mata Paling Biru karya Toni Morrison

foto:  https://www.berdikaribook.red/mata-paling-biru.html Judul: Mata Paling Biru Penulis: Toni Morrison Penerjemah: Aly D Musyrifa Penerbit: Basabasi Cetakan I: November 2019 Tebal: 284 hlmn ISBN: 978-623-7290-40-7 Mata Paling Biru adalah novel Toni Morrison, sebuah buku yang dipuji karena kekayaan bahasa dan kejelasan visinya. Dengan latar belakang kota Lorain, Ohio, yang merupakan kota kelahiran dan masa kanak-kanak sang pengarang, novel ini bercerita tentang seorang gadis cilik sebelas tahun, kulit hitam, bernama Pecola Breedlove. Pecola berdoa agar matanya berubah menjadi biru supaya cantik dan disayang sebagaimana anak-anak kulit putih Amerika yang berambut blonde dan bermata biru. Pada musim gugur 1941, tahun ketika bunga marigold tak tumbuh di kebun keluarga Breedlove, kehidupan Pecola memang benar-benar berubah--dengan cara-cara yang menyakitkan dan menghancurkan.  Di bagian pertama buku ini, diawali oleh kedua kakak beradik yang sedang cemas akan biji bunga marigold...

Review Buku yang Tersisa dari yang Tersisa karangan Nurhady Sirimorok

foto:  https://bukumojok.com/product/yang-tersisa-dari-yang-tersisa/  Judul: yang Tersisa dari yang Tersisa Penulis: Nurhady Sirimorok Jenis Buku: Fiksi Penerbit: Buku Mojok Cetakan I: November 2020 Tebal: viii + 183 halaman ISBN 978-623-7284-46-8 Blurb: Sebagai bocah, jika aku hidup hanya dikelilingi orang dewasa, bersama berjuta-juta larangan mereka, barangkali sudah lama kulemparkan diriku ke dasar jurang. Orang-orang dewasa di Tompotikka hanya punya dua cara mendidik kami anak-anak: menghalangi semua rencana kami dan menghukum kami apabila berhasil melompati halangan mereka. Aku mau cepat dewasa. Aku mau cepat bisa melakukan segala yang mereka bisa lakukan. Walaupun, sebetulnya, ada yang lebih hebat: menghabiskan malam bersama tiga sahabatku, berkeliaran di hutan saat semua orang dewasa terlelap. Mereka perlu tahu setiap bocah, setelah menelan jutaan larangan orang tua, butuh bersenang-senang di luar rumah bersama kawan-kawannya. Kalau kemudian mereka memukuli kami sampai ...